Hari Asyura
Januari 26, 2007 at 8:25 am | In Arsip Milis, Tsaqofah | 4 Commentsoleh: GL
Lepas Maghrib sore ini, kita memasuki tanggal 7 Muharram 1428H. Ada beberapa hal yang mungkin sudah sering kita dengar terkait dengan 10 Muharram (‘Asyura). Diantaranya adalah:
1. Pada malam ‘Asyura, dianjurkan melakukan sholat ‘Asyura dan membaca do’a ‘Asyura (do’a dengan keyakinan bahwa tidak akan mati dalam tahun bersangkutan).
Ritual tersebut hanya berdasarkan hadits palsu, yang tidak benar jika diikuti (Imam Suyuthi dalam al-La’ali al-Masnu’ah).
2. Pada hari ‘Asyura, dipercaya bahwa:
- Nabi Adam AS diciptakan;
- Nabi Nuh AS diselamatkan dari banjir besar;
- Nabi Ibrahim AS dilahirkan dan Allah SWT menerima taubatnya;
- Kiamat akan terjadi;
- Orang yang mandi pada hari itu akan jauh dari penyakit; dan
- Disunnahkan menyiapkan hidangan khusus hari ‘Asyura.
Dalam ajaran Islam, hal-hal tersebut adalah tidak benar dan tidak berdasar.
3. Sebagai tambahan, dalam khazanah Jawa, bulan Sura (bulan pertama dalam penanggalan Jawa – yang sama-sama menggunakan dasar kalender bulan – sehingga bertepatan dengan bulan Muharram) diyakini sebagai bulan keramat, serta penuh dengan bala dan petaka. Karenanya perlu diadakan:
- Ruwatan (acara selamatan dengan menyertakan sesaji/tumbal; ada beberapa macam, seperti sedekah laut, sedekah bumi, dll);
- Semedhi (untuk mensucikan diri) di tempat-tempat yang dikeramatkan (gunung, pantai, gua, makam, pohon, dll);
- Ngalap berkah (mencari keberkahan) dengan mengunjungi tempat-tempat keramat;
- Lek-lekan (begadang) di tempat-tempat umum; dst.
Selain itu, beberapa pantangan juga dipegang teguh, seperti: pantang membangun rumah dan pantang menggelar hajatan.
Saya kira rekan-rekan MIIAS tidak ada yang tertarik mengikuti ketiga hal tersebut (setidaknya, demikian yang saya harapkan). Mudah-mudahan rekan-rekan sekalian juga beranggapan bahwa daripada menggunakan tenaga, waktu dan biaya untuk hal-hal yang tidak benar, lebih baik mencoba mengamalkan apa-apa yang telah diajarkan Rasulullah SAW, misalnya puasa hari ‘Asyura, yang didasarkan pada hadits:
1. Dari Ibnu Abbas RA, bahwa Nabi SAW ketika datang ke Madinah, menadapatkan orang Yahudi berpuasa satu hari, yaitu ‘Asyuraa (10 Muharram). Mereka berkata: “Ini adalah hari yang agung yaitu hari Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan keluarga Firaun. Maka Nabi Musa AS berpuasa sebagai bukti syukur kepada Allah”. Rasul SAW berkata: “Saya lebih berhak mengikuti Musa AS dari mereka”. Maka beliau berpuasa dan memerintahkan (ummatnya) untuk berpuasa. (HR Bukhari).
2. Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram. Dan sebaik-baiknya ibadah setelah ibadah wajib adalah shalat malam.” (HR Muslim).
Ada tiga cara berpuasa hari ‘Asyura:
1. Berpuasa tiga hari, yaitu pada tanggal 9, 10, dan 11.
2. Berpuasa dua hari, yaitu pada tanggal 9 dan 10, atau 10 dan 11.
3. Berpuasa satu hari, yaitu pada tanggal 10. (Diriwayatkan ketika Rasulullah SAW memerintahkan untuk puasa pada hari ‘Asyura, para sahabat berkata: “Itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani”. Beliau SAW berdsabda: “Jika datang tahun depan, insya Allah kita akan berpuasa hari kesembilan”. Akan tetapi beliau meninggal pada tahun tersebut. – HR Muslim).
Mungkin hanya ini yang saya ketahui, barangkali ada yang perlu dikoreksi atau ditambah. Terima kasih.
& Komentar »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan komentar
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
ini baru kemajuan …pak GL….ada milis and blog buat MIIAS
Komentar oleh Muchdir — Januari 26, 2007 #
Jazakallah atas informasinya…saya yakin sangat bermamfaat buat saya dan jamaah lainnya, wassalam.
Komentar oleh Muchdir — Januari 26, 2007 #
Pak Muchdir mau jadi kontributor di blog MIIAS? Role kirim2 tulisan…
Komentar oleh miiasonline — Januari 27, 2007 #
No.1 dan No.2 saya sependapat. No.3 Tentang ritual di Jawa, ruwatan, semedi dll, baiknya diteliti maknanya dibalik ritual tsb. Pemahaman dan latar belakang pendidikan pelaksana ritual cenderung mengartikannya secara dangkal.Demikian juga halnya jika dirujuk pada al Quran dan Hadis tidak ada. Coba kita cari barangkali dr kacamata spritual bisa menjelaskan. Banyak hal yang tdk terjelaskan seperti, di Banten menggoreng telor tanpa api diatas kepala dll.
Komentar oleh nfsABC — Januari 11, 2008 #